Health
Mengenal Penyakit Skorbut, pahami gejala dan cara mengatasinya

Vitamin C sangat penting bagi kelangsungan tubuh manusia karena tinggi akan manfaat kesehatan. Namun apa yang terjadi jika tubuh tidak menerima asupan vitamin C dalam waktu yang lama?
Kekurangan vitamin C dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan penyakit merugikan bagi tubuh manusia yaitu scurvy atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan skorbut.
Skorbut adalah penyakit langka akibat kekurangan vitamin C dalam jangka panjang yang timbul jika asupan vitamin C kurang dari 11,4 micromol/L. Bahkan menurut sejarah, penyakit ini disebut-sebut sebagai penyebab nomor satu kematian para pelaut Inggris dan bajak laut di tengah samudera.
Awal muncul skorbut yaitu tahun 1550 SM yang kala itu ramai dibicarakan oleh masyarakat beserta cara pengobatannya menggunakan sayur-sayuran dan bawang. Dokter kesehatan Yunani Kuno, Hippocrates saat itu menyebut penyakit ini sebagai "ileos ematitis" di mana ia mendeskripsikan gejala fisik penderitanya berupa
- Rasa tidak nyaman pada mulut
- Kerontokan gigi
- Luka pada gusi
- Hidung berdarah
- Timbulnya rasa sakit sampai luka yang parah pada kaki
- Kulit yang menipis
- Timbulnya bercak pada kulit
Selain gejala fisik, skorbut juga berdampak pada psikis penderitanya di mana timbul gejala
- Mengalami lelah dan lemah
- Kehilangan nafsu makan
- Gangguan makan
- Pikiran menjadi tidak fokus
- Menjadi mudah tersinggung
Adapun faktor risiko penyebab skorbut yaitu
- Penggunaan alkohol berlebih
- Penggunaan rokok berlebih
- Penghasilan yang rendah
- Jenis kelamin (skorbut umumnya terjadi pada pria)
- Pencucian darah
- Kemoterapi
- Nutrisi yang buruk
- Kurangnya pemberian ASI semasa bayi
Siapa saja yang rawan menderita skorbut? Inilah daftar orang yang rawan menderitanya.
- Orang dengan konsumsi alkohol berlebih
- Perokok aktif
- Bayi tanpa asupan ASI
- Orang lansia yang hanya mengonsumsi teh dan roti
- Golongan kurang mampu yang tidak dapat membeli buah & sayuran
- Orang dengan gangguan makan
- Orang dengan diabetes tipe 1
- Orang dengan penyakit pencernaan, misalnya radang usus
- Orang dengan kelebihan zat besi yang mengarah ke pembuangan vitamin C oleh ginjal
- Orang dengan diet ketat
- Orang dengan alergi makanan
Skorbut dapat dicegah yaitu dengan mencukupi nutrisi makanan khususnya yang tinggi vitamin C, contohnya jeruk. Jeruk terkenal akan kandungan vitamin C nya dan pada satu butir jeruk berukuran sedang mengandung vitamin C sebanyak 70 mg.
Selain jeruk, sumber makanan lain yang kaya pula akan vitamin C yaitu
- Rose hip
- Stroberi
- Lemon
- Jambu biji
- Kiwi
- Tomat
- Pepaya
- Wortel
- Paprika
- Brokoli
- Kentang
- Bayam
Namun jika sudah terkena skorbut, bagaimana cara mengobatinya? Skorbut dapat diobati dengan cara pemberian suplemen vitamin C lewat mulut atau dengan suntik vitamin C. Dosis vitamin C yang direkomendasikan oleh United States Office of Dietary Supplements sesuai usia dan kebutuhannya yaitu:
Usia Dosis Vitamin C
Lahir - 6 bulan 40 mg, secara alami vitamin c tersalurkan lewat pemberian ASI
Bayi 7 - 12 bulan 50 mg
Anak 1 - 3 tahun 15 mg
Anak 4 - 8 tahun 25 mg
Anak 9 - 13 tahun 45 mg
Remaja 14 - 18 tahun 75 mg (pria) & 65 mg (wanita)
Orang dewasa 19 tahun ke atas 90 mg (pria) & 75 mg (wanita)
Wanita hamil 85 mg
Wanita menyusui 120 mg
Perokok aktif 35 mg
Meskipun kasus skorbut mungkin masih sangat jarang terdengar di Indonesia, namun tidak ada salahnya untuk mencegah dari sekarang dengan rutin mencukupi asupan vitamin C agar Anda senantiasa sehat.
Suplemen tinggi vitamin C dapat Anda temukan di sini. Aman bagi ginjal, bebas pewarna dan pengawet buatan, diperkaya Lycopene sebagai antioksidan, dan dilengkapi metode time release agar vitamin C yang larut dalam darah berada lebih lama untuk digunakan dalam kegiatan sepanjang hari.